Kamis, 07 April 2011

Pemenuhan Oksigenasi

 Pengertian    :
Merupakan prosedur pemenuhan kebutuhan oksigen dengan menggunakan alat bantu oksigen.
Pemberian oksigen pada klien dapat melalui tiga cara, yaitu: kateter nasal, kanula nasal dan masker oksigen.

Tujuan        :
  1. Memenuhi kebutuhan oksigen.
  2. Mencegah terjadi hipoksia.

Kebijakan    :

Alat dan bahan:
  1. Tabung oksigen atau outlet oksigen sentral dengan flowmeter dan humidifier.
  2. Kateter nasal, kabnula nasal atau masker.
  3. Vaselin / jely.

Prosedur        :
A. Menggunakan kateter nasal


  1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
  2. Cuci tangan
  3. Observasi humidifier dengan melihat jumlah air yang sdah disiapkan sesuai level yang telah ditetapkan.
  4. Atur aliran oksigen sesuai dengan kecepatan yang dibutuhkan, kemudian observasi humidifier pada tabung air dengan menunjukkan adanya gelembung air.
  5. Atur posisi dengan semi fowler.
  6. Ukur kateter nasal dimulai dari lubang telinga sampai ke hidung dan berikan tanda.
  7. Buka saluran udara dari flommeter oksigen.
  8. Berikan minyak pelumas (vaselin/jely).
  9. Masukkan ke dalam hidung sampai datas yang ditentukan.
  10. Lalukan pengecekan kateter apakah sudah masuk atau belum dengan menekan lidah pasien dengan menggunakan spatel (akan terlihat posisinya di bawah uvula).
  11. Fiksasi pada daerah hidung.
  12. Periksa kateter nasal setiap 6 – 8 jam.
  13. Kaji cuping hidung, septum, mukosa hidung serta periksa kecepatan aliran oksigen, rute pemberian dan respon pasien.
  14. Cuci tangan seterlah prosedur dilakukan.

B. Menggunakan kanula nasal


  1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
  2. Cuci tangan
  3. Observasi humidifier dengan melihat jumlah air yang sudah disiapkan sesuai level yang telah ditetapkan.
  4. Atur aliran oksigen sesuai dengan kecepatan yang dibutuhkan, kemudian observasi humidifier pada tabung air dengan menunjukkan adanya gelembung air.
  5. Pasang kanula nasal pada hidung dan atur pengikat untuk kenyamanan pasien.
  6. Periksa kanula nasal setiap 6 – 8 jam.
  7. Kaji cuping hidung, septum, mukosa hidung serta periksa kecepatan aliran oksigen, rute pemberian dan respon pasien.
  8. Cuci tangan seterlah prosedur dilakukan.


C.    Menggunakan masker oksigen

  1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
  2. Cuci tangan
  3. Atur posisi semi fowler.
  4. Observasi humidifier dengan melihat jumlah air yang sudah disiapkan sesuai level yang telah ditetapkan.
  5. Atur aliran oksigen sesuai dengan kecepatan yang dibutuhkan, kemudian observasi humidifier pada tabung air dengan menunjukkan adanya gelembung air.
  6. Tempatkan masker oksigen diatas mulut dan hidung pasien dan atur pengikat untuk kenyamanan pasien.
  7. Periksa kanula nasal setiap 6 – 8 jam.
  8. Kaji cuping hidung, septum, mukosa hidung serta periksa kecepatan aliran oksigen, rute pemberian dan respon pasien.
  9. Cuci tangan seterlah prosedur dilakukan.

Fisiotherapi dada


Pengertian    :
Merupakan tindakan perawatan dengan melakukan drainage postural, clapping dan vibrating pada pasien dengan gangguan sistem pernafasan.
Tindakan postural merupakan tindakan dengan menempatkan pasien dalam berbagai posisi untuk mengalirkan sekret di saluran pernafasan. Tindakan drainage postural diikuti dengan tindakan clapping (penepukan) dan vibrasi.

Tujuan        :
  1. Meningkatkan efisiensi pola pernafasan.
  2. Membersihkan jalan napas.

Kebijakan    :

Alat dan bahan:
  1. Pot sputum berisi desinfeksi
  2. Kertas tisue
  3. Dua balok tempat tidur (untuk drainage postural).
  4. Satu bantal (untuk drainage postural).
  5. Stetoskop.

Prosedur        :
A. Drainage p[ostural


  • Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
  • Cuci tangan
  • Atur Posisi:
    • Semi fowler bersandar ke kanan, ke kiri lalu ke depan apabila daerah yang akan di di drainage pada lobus atas bronkus apikal.
    • Tegak dengan sudut 45 derajat membungkuk ke depan pada bantal dengan 45 derajat ke kiri dan kanan apabila daerah yang akan di drainage bronkus podterior.
    • Berbaring dengan bantal di bawah lutut apabila yang akan didrainage brokus anterior.
    • Posisi trendelenberg dengan sudut 30 derajad atau menaikkan kaki tempat tidur 35 – 40 cm, sedikit miring ke kiri apabila yang akan di drainage pada lobus tengah (bronkus lateral dan medial).
    • Posisi trendelenberg dengan sudut 30 derajad atau menaikkan kaki tempat tidur 35 – 40 cm, sedikit miring ke kanan iri apabila daerah yang akan di drainage pada bronkus superior dan inferior).
    • Condong dengan bantal di bawah panggul apabila ynag didrainage bronkus apikal.
    • Posisi trendelenberg dengan sudut 45 derajad atau dengan menaikkan kaki tempat tidur 45 – 50 cm, miring ke samping kanan, apabila yang akan di drainage bronkus medial.
    • Posisi trendelenberg dengan sudut 45 derajad atau dengan menaikkan kaki tempat tidur 45 – 50 cm, miring ke samping kiri, apabila yang akan di drainage bronkus lateral.
    • Posisi trendelenberg condong sudut 45 derajad dengan bantal di bawah panggul, apabila yang akan di drainage brokus posterior.
  • Lama pengaturan posisi pertama kali adalah 10 menit, kemudian periode selanjutnya kurang lebih 15 – 30 menit.
  • Lakukan observasi tanda vital selama prosedur.
  • Setelah pelaksanaan drainage lakukan clapping, vibrasi, dan pengisapan lendir (suction).
  • Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.


B. Clapping dan Vibrasi


  1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
  2. Cuci tangan
  3. Atur Posisi sesuai dengan postural drainage.
  4. Lakukan clapping dan vibrasi pada:
    1. Seluruh lebar bahu atau meluas beberapa jari ke klavikula apabila daerah paru yang perlu di clapping/vibrasi adalah daerah bronkus apikal.
    2. Lebar bahu kanan masing-masing sisi apabila yang akan di clapping/vibrasi adalah daerah bronkus posterior.
    3. Dada depan di bawah klavikula, apabila yang akan di clapping/vibrasi adalah daerah bronkus anterior.
    4. Anterior dan lateral dada kanan dan lipat ketiak sampai mid anterior dada apabila yang akan di clapping/vibrasi adalah daerah lobus tengah (bronkus lateral dan medial).
    5. Lipat ketiak kiri sampai midanterior dada apabila yang diclapping dan vibrasi adalah daerah bronkus superior dan inferior.
    6. Sepertiga bawah kosta posterior kedua sisi, apabila yang diclapping dan vibrasi adalah daerah bronkus apikal.
    7. Sepertiga bawah kosta posterior kedua sisi, apabila yang diclapping dan vibrasi adalah daerah bronkus medial.
    8. Sepertiga bawah kosta posterior kanan, apabila yang diclapping dan vibrasi adalah daerah bronkus lateral.
    9. Sepertiga bawah kosta posterior kedua sisi, apabila yang diclapping dan vibrasi adalah daerah bronkus posterior.

  5. Lakukan clapping dan vibrasi selama lurang lebih satu menit.
  6. Setelah dilakukan tindakan drainage postural, clapping dan vibrasi dapat dilakukan tindakan pengisapan lendir (lihat tindakan penghisapan lendir/suction).
  7. Lakukan auskultasi pada daerah paru yang dilakukan tindakan drainage postural, clapping dan vibrasi.
  8. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.



PENGHISAPAN LENDIR

Pengertian    :
Penghisapan lendir (suction) merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang tidak mampu mengeluarkan sekret atau lendir secara mandiri dengan menggunakan alat penghisap.

Tujuan        :
  1. Membersihkan jalan napas.
  2. Memenuhi kebutuhan oksigenasi.

Kebijakan    :

Alat dan bahan:
  1. Alat penghisap lendir dengan botol berisi larutan desinfektan.
  2. Kateter penghisap lendir steril.
  3. Pinset steril.
  4. Sarung tangan steril.
  5. Dua kom berisi larutan aquades atau NaCl 0,9 % dan larutan desinfektan.
  6. Kasa steril.
  7. Kertas tissue.
  8. Stetoskop.

Prosedur        :

  1. Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan.
  2. Cuci tangan
  3. Tempatkan pasien pada posisi telentang dengan kepala miring ke arah perawat.
  4. Gunakan sarung tangan.
  5. Hubungkan kateter penghisap dengan slang alat penghisap.
  6. Mesin penghisap dihidupkan.
  7. Lakukan penghiusapan lendir dengan memasukkan kateter penghisap ke dalam kom berisi aquadest atau NaCl 0,9 % untuk mempertahankan kesterilan.
  8. Masukkan kateter penghisap dalam keadaan tidak menghisap.
  9. Gunakan alat penghisap dengan tekanan 110 – 150 mm Hg untuk dewasa, 95 – 110 mm Hg untuk anak-anak, dan 50 – 95 ,, Hg untuk bayi (Potter dan Perry, 1995).
  10. Tarik dengan memutar kateter penghisap tidak lebih dari 15 detik.
  11. Bilas kateter dengan aquades atau NaCl 0,9%.
  12. Lakuka penghisapan antara penghisapan pertama dengan berikutnya, minta pasien untuk bernapas dalam dan batuk. Apabila pasien mengalami distres pernapasan, biarkan istirahat 20 – 30 detik seblum melakukan penghisapan berikutnya.
  13. Setelah selesai, kaji jumlah, konsistensi, warna, bau sekret, dan respon pasien terhadap prosedur yang dilakukan.
  14. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar